-->

Saran Ekonom Agar Program Non Tunai Tak Timbulkan PHK

Saran Ekonom Agar Program Non Tunai Tak Timbulkan PHKFoto: Grandyos Zafna

Jakarta - Ribuan petugas gardu yang biasa bekerja di gerbang tol terancam di putus korelasi kerjanya lantaran adanya kebijakan kewajiban transaksi non tunai secara penuh di tol. Pasalnya, diketahui operator tol yang selama ini mengandalkan jasa mereka untuk transaksi tunai di gerbang tak memiliki cukup posisi gres untuk diisi oleh para petugas yang terkena imbas kebijakan ini.

Hal tersebut diakui oleh pengamat ekonomi Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira. Bahkan proses alih profesi yang diterapkan oleh operator tol diprediksi tak selamanya mulus dalam implementasinya di lapangan, sehingga berpotensi menjadikan PHK lebih besar.

"Itu jumlahnya jikalau diestimasi memang cukup besar, secara operasional mampu lebih dari 5 ribu orang. Lalu, proses pengalihan tenaga kerja dari gardu tol manual, itu oleh Jasa Marga hingga sekarang juga belum ada kejelasannya. Makara jikalau kita bayangkan ada alih profesi untuk menjaga SPBU, menjaga UMKM di rest area atau ke tol-tol yang gres diresmikan, itu menurut saya agak susah sebab skill dasarnya pun agak berbeda," ungkapnya ketika ditemui di Gedung Wisma Antara, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Untuk mengurangi dampak PHK secara besar-besaran akhir peralihan ke transaksi non tunai, ia berharap operator masih menyisakan satu gardu khusus tunai di gerbang tol.

"Harus tetap ada yang tunai. Walau pun hanya satu gardu, tapi mampu untuk mengurangi angka pengangguran yang akan tercipta. Karena alih profesi enggak semudah itu dilakukan, setidaknya secara bertahap," tutur Bima.

Penerapan 100% non tunai di tanggal 31 Oktober 2017 mendatang pun dirasa terlalu terburu-buru. Selain sebab infrastruktur non tunai atau e-money di tol yang belum berfungsi secara sempurna, ia berharap hal ini mampu menyisakan waktu bagi karyawan yang akan terkena PHK mempersiapkan dirinya lebih matang. Setidaknya hingga 5 bulan ke depan.

"Jadi jikalau mampu diperpanjang lagi hingga 5 bulan ke depan. Makara pembiasaan masyarakat juga baik. Karena jikalau dasarnya yaitu soal efisiensi dan tidak ada kemacetan, nyatanya enggak ya. Artinya alasannya harus rasional," tuturnya.

Bima juga meminta kepada perbankan untuk menjelaskan secara rinci dan transparan mengenai biaya investasi dari pembuatan kartu uang elektronik. Karena menurut dia, best practice penggunaan e-money justru harus memberi stimulus atau insentif ke pengguna untuk mau beralih ke perubahan cara dalam bertransaksi.

"Kita minta transparansi, berapa sih biaya investasi mesin EDC, pencetakan kartu dan lainnya yang ditanggung perbankan atau Jasa Marga, sehingga masyarakat transparan, walaupun top up cuma Rp 1.500 misalnya, itu mampu dipertanggung jawabkan," papar Bima.

"Karena jikalau mau tiru Singapura, semua sudah pakai ERP (electronic road pricing), tidak pakai kartu lagi. Malaysia juga sebagian besar menyerupai itu. Dan jikalau bicara soal e-money, Afrika, China semuanya sudah pakai mobile apps dan banyak diskon yang diberikan. Sementara jikalau kita masih sibuk dengan kartu, kartu itu sangat mahal. Bukannya justru lebih efisien, justru lebih mahal," tandasnya.

0 Response to "Saran Ekonom Agar Program Non Tunai Tak Timbulkan PHK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel